Text
Peningkatan Kadar Bauksit Kalimantan Barat untuk Metalurgi
Peningkatan kadar (upgrading) bauksit Kalimantan Barat untuk
metalurgi dilakukan, mengingat bauksit Kalimantan Barat hanya
berkadar antara 30-40% Al2O3, sedangkan contoh bauksit baru dapat
digunakan untuk bahan baku pembuatan SGA dengan proses Bayer
yang oleh the Bureau of India Standars (BIS) menetapkan standar
bahan baku bauksit untuk metalurgi harus mengandung Al2O3 > 52%,
SiO2 52% yang
dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan SGA di dalam negeri
sehingga dapat mengganti impor bahan baku alumina untuk
pembuatan logam aluminium di Indonesia (PT. Inalum) dengan
mengetahui karakteristik bauksit di daerah Mempawah dan Landak,
Kalimantan Barat. Peningkatan kadar bauksit Kalimantan Barat untuk
metalurgi telah dilakukan dari asal Mempawah dan Landak
Kalimantan Barat, yang mempunyai kadar Al2O3 > 48,60% untuk
bauksit Mempawah dan 48,03% untuk bauksit Landak dengan
pengotor utama berupa; kuarsa berkadar SiO2 22,28%, SiO2 reaktif
5,80%, Fe2O3 8,82% untuk bauksit Mempawah sedangkan bauksit
Landak mengandung pengotor SiO2 sebesar 22,48%, SiO2 reaktif 8,0%,
Fe2O3 9,10%. Dari hasil analisis ayak basah bauksit Mempawah dan
Landak mengandung lumpur cukup besar yaitu sebesar 10% untuk
bauksit Mempawah dan 40% untuk bauksit Landak. Bauksit
Kalimantan Barat berbentuk mineral gibsit, tidak mengandung unsur-
unsur minor (tanah jarang), dan terdistribusi pada ukuran 212 μm
sebesar 80,55% untuk bauksit Mempawah dan sebesar 55,41% untuk
bauksit Landak. Peningkatan kadar bauksit Kalimantan Barat
dilakukan dengan metode pencucian dengan menggunakan classifier
dan pengayakan basah pada ukuran -1,7 mm + 212 μm, setelah melalui
pengecilan ukuran bauksit +1,7 mm menggunakan jaw crusher dan roll
mill. Peningkatan kadar bauksit Kalimantan Barat tersebut dapat
menghasilkan konsentrat (bauksit tercuci) berkadar Al2O3 sebesar
54,21%, SiO2 1,92%, SiO2 reaktif 0,78%, dan Fe2O3 5,85% untuk
bauksit Mempawah dan berkadar Al2O3 sebesar 53,97%, SiO2 2,75%,
SiO2 reaktif 2,65% dan Fe2O3 3,52% untuk bauksit Landak dengan
perolehan berturut-turut sebesar 71,92% untuk bauksit Mempawah
dan 56,47% untuk bauksit Landak sehingga dari rancangan awal
pencucian bauksit yang dilakukan diperoleh deviasi kadar Al2O3 dari
perhitungan dan analisis dengan XRF sebesar 4,74% dan deviasi berat
sebesar 0,24%.
Tidak tersedia versi lain