Text
Recovery Bijih Emas Halus dengan Metode Aglomerasi Batubara untuk Bijih Emas Oksidis dan Sulfidis
Logam emas merupakan salah satu komoditi logam primadona di
dunia yang masih dipakai sebagai barometer perdagangan dunia yang
tercatat bahwa sejak tahun 1970 Afrika Selatan mendominasi
produksi pertambangan emas dunia yaitu sekitar 67,7% namun tahun-
tahun berikutnya persentase produksi emas Afrika Selatan tercatat
menurun yaitu tahun 1990 menjadi 26,4% dan pada tahun 2006
hanya 11% [www.goldsheetlinks.com, 2007]. Hal ini disebabkan
karena negara-negara lain terus meningkatkan produksi emasnya
khususnya negara-negara berkembang di Asia, Amerika Latin, dan
Afrika termasuk Indonesia. Penambang bijih emas di Indonesia selain
dilakukan oleh perusahaan besar (missal PT. FI; PT. Antam; PT.
Newmont dll.) juga banyak dilakukan oleh usaha pertambangan
menengah ke bawah bahkan banyak dilakukan oleh penambang liar
(PETI) namun demikian Indonesia bukan penambang emas besar di
dunia khususnya PETI yang umumnya beroperasi tanpa
mempedulikan lingkungan perlu mendapat perhatian, oleh karena itu
pengolahan bijih emas di Indonesia perlu dicarikan teknologi alternatif
yang ramah lingkungan. Saat ini teknologi pengolahan emas di
Indonesia umumnya menggunakan kimia merkuri untuk proses
amalgamasi dan asam sianida untuk proses sianidasi. Kedua proses ini
menggunakan bahan kimia sangat beracun. UNIDO mempunyai
program mengurangi pencemaran lingkungan khususnya oleh
penambang-penambang emas liar di negara-negara Afrika, Amerika
Latin dan Asia termasuk Indonesia. Sebagai antisipasi program UNIDO
maka salah satu inovasi teknologi yang ramah lingkungan adalah
teknologi CGA (coal-gold-aglomeration). Coal-Gold-Aggllomeration
(CGA) adalah teknologi ramah lingkungan yang dimulai dengan proses
Coal-Oil-Agglomeration (COA) kemudian dilanjutkan dengan proses
multi kontak antara Cold-Oil-Agglomeration dengan bijih baru 8-10
kali, terbentuk aglomerat batubara mengandung partikel emas (CGA).
Studi ini dilakukan terhadap bijih emas oksidis, sulfidis maupun
alluvial yang menunjukkan bahwa peningkatan kaddar emas sangat
signifikasn sekitar 12-15 kali lipat dari kadar emas awal dengan
recovery kumulatif maksimum seitar 80-90%. Dibandingkan dengan
proses amalgamasi, teknologi coal-gold-agglomeration lebih efektif.
Laporan ini merupakan hasil penelitian inovasi teknologi pengolahan
emas yang ramah lingkungan yang ditujukan untuk menangkap
partikel emas dalam mineral-mineral oksidis dan sulfidis. Secara
teknis ilmiah, teknologi ini mampu menangkap partikel emas dari
bijihnya hingga berkadar 12-15 kali lipat dari kadar bijih awal dengan
recovery tidak kurang dari 80%.
Tidak tersedia versi lain