Text
Rancang Bangun Alat Penangkap CO2 pada Industri Berbahan Bakar Batubara
Yang menjadi isu efek rumah kaca saat ini adalah meningkatnya
konsentrasi CO2, karbon dioksida terjadi secara alami di atmosfir
tetapi aktivitas manusia antara lain pembakaran bahan bakar fosil
(seperti minyak, batubara dan gas untuk produksi energi dan
transportasi), melepaskan karbon dioksida dan terkumulasi sejak
puluhan tahun yang lalu, dan hingga saat ini bahkan sampai abad
mendatang bahwa bahan bakar fosil masih merupakan salah satu
sumber energi di dunia termasuk di Indonesia. Hal ini terlihat dari
komposisi bauran energi hingga tahun 2030 yang masih menggunakan
batubara dan BBM, dan usaha dalam pencegahan pemanasan global
antara lian berupa penghematan energi dan pengurangan CO2 yang
terekspos ke atmosfir. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah
untuk mendukung program aksi nasional perubahan iklim, untuk
menuju penurunan emisi 26% pada tahun 2020 dengan penggunaan
teknologi penangkapan CO2 dan maksud dilakukannya kegiatan ini
adalah untuk membuat material penyerap CO2 dan membuat prototype
penangkapan emisi CO2 pada industri berbahan bakar batubara
dengan teknologi penangkapan post-combustion. Kegiatan yang
dilakukan terdiri dari pembuatan adsorben dari zeolit alam,
karakterisasi adsorben, uji coba adsorpsi CO2 dengan beberapa zeolit
termasuk zeolit sintetik (molecular sieve 13X) sebagai pembanding,
pembuatan awal alat pengurang CO2, dan pengukuran CO2 dari stack
industri berbahan bakar batubara. Pembuatan dan karakterisasi
adsorben serta perancangan dilaksanakan di Laboratorium Teknik
Reaksi Kimia ITB, dan adapun lokasi pengukuran gas buang dipilih 12
perusahaan tekstil sekitar Kabupaten Bandung. Pembuatan adsorben
menggunakan cara modifikasi dengan larutan monoetanolamin (MEA)
dalam methanol, dan karakterisasi adsorben meliputi analisis luas
permukaan, XRD, dan TGA. Uji adsorpsi CO2 dengan metode tekanan
vakum. Alat pengurang CO2 dirakit berdasarkan teknik fluidasi, dan
adapun pengukuran CO2 dari gas buang memakai alat flue gas analyzer.
Hasil kegiatan diperoleh hal-hal berikut, yaitu: analisis luas
permukaan memberikan perbedaan yang jauh yaitu zeolit alam hasil
pencucian dengan asam sebesar 159,5 m2/g dan zeolit sintentik 434,4
m2/g. Menurut difraktogram XRD terjadi perubahan pada zeolit alam
dan zeolit sintetik setelah diberi perlakuan amin. Komposisi zeolit
alam yang semula kuarsa dan mordenite menjadi tridimite, mordenite,
dan clinoptilolite sedangkan zeolit sintetik diidentifikasi sebagai
sodium kalsium aluminium hidrat berubah menjadi bersifat amorf,
dan berdasarkan analisis TGA terlihat bahwa temperatur optimum
kehilangan berat dari zeolit yang dicoba antara 133-218°C. Zeolit alam
yang dimodifikasi MEA memiliki kapasitas adsorpsi 12,88 ml CO2/g
adsorben, sementara zeolit alam asli hanya 5,01 mL CO2/g adsorben.
Nilai tersebut dibandingkan dengan zeolit sintentik (201,24 mL CO2/g
adsorben) memang jauh, tetapi zeolit alam dapat dijadikan adsorben
CO2 alternatif asalkan diberi perlakuan tambahan. Masih diperlukan
banyak modifikasi pada alat pengurang CO2 yang dibuat sekarang jika
akan dipakai ujicoba skala bangku. Adapun hasil pengukuran
kandungan Karbondioksida di beberapa cerobong pabrik berkisar
antara 0,4 - 4,4% dan 15,9 - 20,6% untuk oksigen. Pengukuran ini
perlu dievaluasi karena ada kecenderungan pemakaian blower atau
lubang udara tambahan untuk mendorong gas buang ke udara luar,
gas buang sebenarnya telah terencerkan oleh udara dari blower.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain