Text
Proses Pengolahan Mineral Kaolin untuk Bahan Baku Metakaolin dan Felspar untuk Bahan Baku Keramik Skala Pilot Plant
Metakaolin banyak digunakan terutama sebagai bahan aditif semen
berfungsi untuk meningkatkan sifat-sifat fisik semen Portland, dan
salah satu bahan baku untuk pembutan metakaolin sebagai bahan
aditif semen adalah kaolin. Kaolin di alam pada umumnya belum
memenuhi persyaratan sebagai bahan baku metakaolin sehingga perlu
dilakukan proses pengolahan untuk memenuhi persyaratan yang
diperlukan yaitu Al2O3 > 37%. Pengolahan kaolin dilakukan dengan
cara dekantasi untuk memisahkan mineral-mineral pengotornya
seperti kuarsa, mika, mineral-mineral besi, dan lain-lain. Bahan baku
kaolin hasil pengolahan yang telah memenuhi persyaratan kemudian
dijadikan pelet dengan menambahkan binder sodium aluminat
kemudian dikalsinasi pada suhu 600° hingga 950° C untuk
menghasilkan metakaolin. Kegiatan pada tahun 2009 difokuskan
dalam pembuatan bahan baku metakaolin dan pengolahan felspar
sebagai bahan baku keramik halus skala pilot sedangkan pembuatan
metakaolinnya dilakukan pada skala laboratorium. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk mendapatkan teknologi pembuatan bahan
baku metakaolin dan peningkatan kadar felspar untuk bahan baku
keramik halus dalam skala pilot kapasitas 500 kg/hari. Penelitian
pengolahan harus metakaolin untuk bahan baku metakaolin telah
dilakukan di Sentra Percontohan Pengolahan Mineral, Citatah,
Kabupaten Bandung Barat. Kaolin yang digunakan berasal dari
Cicalengka dan Bangka. Kaolin Cicalengka mengandung mineral
kaolinit, tridimit, dan sanidin (potassium sodium alumina silicate)
dengan kadar Al2O3 18,94%. Kaolin Bangka mengandung mineral
muscovite (potassium aluminium silicate hydroxide) dan kaolinit
(aluminium silicate hydroxide) dengan kadar Al2O3 32,80%. Pemisahan
kaolinit dari mineral pengotornya (tridimit, sanidin, dan muscovite)
dilakukan secara dekantasi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan
kadar Al2O3 yang signifikan untuk kaolin Bangka menjadi 37,5%
sedangkan untuk kaolin Cicalengka hasilnya hanya mencapai
maksimum 21,7%. Kaolin Bangka dapat memenuhi syarat sebagai
bahan baku metakaolin karena setelah diolah kadar Al2O3-nya dapat
melebihi 37%. Kaolin hasil pengolahan dikalsinasi pada suhu 9000°C
selama 20 menit untuk menjadi metakaolin dan hasil XRD terhadap
metakaolin yang dihasilkan menunjukkan struktur lembaran-
lembaran (sheet) kaolin yang lebih tebal serta tidak beraturan yang
menunjukkan terbentuknya fasa amorf. Pengolahan felspar dilakukan
terhadap sampel felspar berkadar K2O + Na2O 5,55%, pengolahan
dilakukan melalui tiga tahapan yaitu: pengecilan ukuran menjadi 150
mesh, flotasi tahap pertama untuk memisahkan mika dan besi dari
kuarsa dan felspar, dan flotasi tahap kedua untuk memisahkan kuarsa
dari felspar. Hasil pengolahan felspar menunjukkan bahwa felspar
yang diperoleh dapat meningkatkan kadar K2O + Na2O-nya menjadi
10,46% yang dicapai dengan flotasi pada pH3.
Tidak tersedia versi lain