Text
Penelitian K3 Penyanggaan pada Penambangan Long Wal Semi Mekanis Batubara Bawah Tanah dalam Rangka Mendukung Penyusunan Kebijakan K3 Tambang di Minerbapabum
K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) merupakan salah satu kunci
keberhasilan dalam suatu kegiatan usaha terutama kegiatan yang
memiliki tingkat resiko kecelakaan yang tinggi seperti kegiatan
penambangan bawah tanah (underground mine) untuk dapat
melakukan menambang dengan lancar dan aman. Seperti halnya di
dalam tambang long wall semi-mekanis, K3 dapat dicapai dan di
implementasikan dengan syarat aspek-aspek yang mempengaruhi
tambang longwall semi-mekanis diperhatikan dengan baik, aspek-
aspek yang berpengaruh agar K3 tercipta di dalam tambang longwall
semi-mekanis adalah geologi, hidrogeologi, dan teknis mengenai
penyanggaan. Seiring dengan semakin menjamurnya kegiatan
penambangan batubara yang pada umumnya menggunakan sistim
penambangan terbuka (suface mining) maka semakin kritis kondisi
lingkungan yang ditandai perubahan phenomena alam dari waktu ke
waktu yang kian bertambah rentan sehingga kondisi seperti ini
menjadikan isu lingkungan yang paling disoroti akhir-akhir ini sebagai
konsekwensinya adalah pemerintah harus segera merealisasikan alih
teknologi dari sistim penambangan terbuka ke sistim penambangan
bawah tanah (underground mining) yang merupakan satu-satunya
alternatif dikarenakan secara realita lebih ramah terhadap lingkungan
dibandingkan dengan penambangan dipermukaan. MInerbapabum
yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah harus segera
membenahi peraturan-peraturan terutama yang berkaitan dengan
kesehatan dan keselamatan kerja (K3) penambangan bawah tanah
karena sistim penambangan ini memiliki tingkat resiko kecelakaan
yang sangat tinggi (high risk). Dalam rangka mendukung penyusunan
kebijakan K3 tambang di Minerbapum maka pada tahun anggaran
2010 Puslitbang tekMIRA telah melakukan penelitian K3 penyanggaan
pada penambangan Long Wall semi mekanis di PT. Fajar Bumi Sakti
dimana telah terjadi dua kali kecelakaan tambang selama dua tahun
berturut-turut (22 Juni 2009) dan tanggal 5 Juni 2010) yang menelan
korban 2 orang meninggal dan 1 orang luka berat. Lubang bukaan
berbentuk trapezium (3-piece-set) dengan dimensi tinggi = 2,4 m;
lebar roof = 2,4 m; lebar floor = 3,8m. Penyanggaan pada lorong-lorong
utama termasuk pada headgate dan tailgate pada panel tambang
menggunakan kayu (ulin atau kahori) serta untuk daerah
persimpangan digunakan gabungan kayu dan besi (I-bearn sebagai
cap). Dimensi penyangga kayu utama (cap dan post) adalah 20 cm x 20
cm (standar) dengan panjang 240 cm. Jarak antar penyangga 85 cm.
Berdasarkan hasil perhitungan dari data yang diperoleh pada lokasi
kecelakaan untuk penyangga apabila menggunakan kayu kelas I baik
untuk SF cap maupun post diperoleh nilai faktor keamanan > 1, 5
sedangkan apabila menggunakan kayu kelas II, terutama untuk SF cap
sebagai penyangga beban utama diperoleh nilai faktor keamanan < 1,2,
oleh karena itu untuk memperoleh nilai SF > 1,5 baik untuk cap dan
untuk post maka dapat dikombinasikan dua kelas kayu yang berbeda
yakni : untuk cap menggunakan kayu kelas I sementara untuk dua
buah post kiri-kanan dapat menggunakan kayu kelas II sehingga selain
akan mengurangi beban biaya juga akan lebih memudahkan dari segi
pengadaan. Kalau hasil perhitungan pada penyangga yang telah
diterapkan masih memenuhi nilai faktor keamanan, maka kecelakaan
yang terjadi lebih disebabkan karena masih belum optimalnya
penerapan SOP. Volume air tanah yang berlebih akan sangat
mempengaruhi stabilitas penyangga sedangkan saluran yang telah
dibuat hanya dapat menampung debit air sekitar 45 liter/detik untuk
itu maka volume air yang masuk dan diprediksi akibat dari adanya
jebakan air di permukaan tamka pada koordinat (X : 500715,71 dan Y :
9958646,94) dengan dimensi jebakan kurang lebih 20 m x 20 m x 3
yang meresap deras dari atap memasuki petak 1 s/d 5 dimana terjadi
ambrukan pada tamda dengan koordinat yang sama maka dapat
dipastikan > 45 liter/detik sehingga mengikis kedudukan bantalan
penyangga.
Tidak tersedia versi lain