Text
Kajian Mineral Perkembangan Pertambangan Logam Dunia dan Indonesia 2001-2006
Meningkatnya harga logam di dunia disebabkan oleh 2 faktor utama,
yaitu pasokan yang lambat dan melonjaknya permintaan logam di Cina
sehingga menyebabkan stok logam dunia menjadi berkurang sampai
saat ini, dan faktor utama kurangnya pasokan adalah ditundanya
operasi pengembangan kapasitas produksi tambang sehubungan
adanya ketidakcocokan antara pekerja dengan pemilik tambang
seperti yang terjadi di Indonesia, Cili, Meksiko, Peru, juga di Cina.
Permintaan Cina terhadap logam dunia dimulai sejak tahun 2000
sampai sekarang dengan pertumbuhan yang cepat, hampir tiga kali,
dan andil di pasar global lebih dari 11%. Produksi logam Cina
sebetulnya cukup tinggi namun Cina juga sebagai importer logam Cina
sebetulnya cukup tinggi, namun Cina juga sebagai importir logam
terbesar di dunia seperti bijih besi, nikel, tembaga, aluminium dan
lain-lain. Konsumsi logam Cina akan terus berlanjut sehubungan
dengan penambahan kapasitas pabrik bajanya menjadi 6,6 juta ton
tahun 2009, eqivalen dengan 30% dari kapasitas tahun 2004. Nikel
sebagai bahan baku dalam flat besi baja juga akan naik, demikian juga
dengan yang lainnya. Sisi lain dari operasional logam yang harus
dicermati adalah isu global terhadap makin tingginya emisi gas dari
pabrik baja dan pengolahan logam lainnya yang makin
mengkhawatirkan. Pemakaian Teknologi tinggi untuk baja bebas nikel
atau pembuatan solder (timah) bebas timah hitam, dll merupakan
salah satu upaya untuk menanggulangi kurangnya pasokan dan
mengurangi emisi hasil pembakaran. Isu pemakaian energi bahan
bakar juga terus diperbincangkan sehubungan dengan makin
menipisnya cadangan minyak. Pengkajian diarahkan untuk
mendapatkan gambaran bagaimana perkembangan perdagangan
mineral logam internasional, perkembangan pengelolaan komoditi
mineral logam Indonesia, kebijakan, serta prospek pengembangannya
di masa depan, dan adapun tujuannya adalah memberikan masukan
kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dan penentuan kebijakan serta bagi para pengusaha yang
tertarik untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode eksplanasi (level of
explanation) dengan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk
mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa atau kejadian pada masa
sekarang, sedangkan metoda kuantitatif digunakan untuk
memprediksi perkembangan dan peluang pengusahaan mineral logam
di masa yang akan datang. Di Indonesia setelah tahun 2004 produksi
dan ekspor logam mengalami peningkatan lagi dan dari sisi keuangan,
produsen logam dan investor banyak menarik keuntungan dengan
menghasilkan hampir dua kali dari tahun 2004, dengan membaiknya
pasokan bahan baku logam dan pertumbuhan ekonomi di dunia,
khususnya Negara berkembang di Asia sebagai pasar utama produk-
produk logam terutama di sektor kontruksi, elektronik, makanan, dsb,
prospek permintaan logam dunia akan terus membaik walaupun
kenaikannya akan lambat.
Tidak tersedia versi lain