Text
Pengembangan Upgrading Batubara dengan Teknologi Coal Drying and Briquetting (CDB)
Cadangan batubara semakin besar memiliki peringkat sub-bituminus
dan lignit yang termasuk kedalam batubara peringkat rendah atau
BPR, cadangan BPR saat ini belum diminati karena sulit dipasarkan,
dan salah satu sifat yang tidak menguntungkan dari batubara tersebut
adalah tingginya kandungan air total (30-50%) sehingga nilai kalor
menjadi rendah (< 5.000 Kkal/g ar), selain itu batubara peringkat
rendah mempunyai kecenderungan untuk terjadinya pembakaran
spontan (spontaneous combustion). Dengan kondisi demikian BPR
memiliki kendala dalam pemanfaatannya karena memberikan
pengaruh yang negatif terhadap biaya tranportasi dan proses
pembakarannya. Teknologi Pengeringan telah dikembangkan sejak
tahun 1920-an, pada tahun tersebut di Austria dikembangkan proses
Fleissner untuk menurunkan kandungan air batubara peringkat
rendah menggunakan media dan energi panas dari superheated steam.
Saat ini telah banyak teknologi pengeringan batubara dikembangkan
dan berdasarkan fasa air yang keluar dari batubara saat proses,
teknologi evaporative dan non-evaporative. Pada teknologi evaporative,
air dikeluarkan dalam batubara dengan fasa gas sedangkan pada
proses non-evaporative karena penggunaan tekanan tinggi pada saat
proses maka air keluar dari batubara dalam bentuk fasa cair, dan
sebagian besar teknologi pengeringan batubara adalah masuk ke
dalam jenis teknologi evaporative seperti contoh teknologi UBC
(upgraded brown coal), BCB (binderless coal briquetting), CUB (coal
upgraded briquettes) dan lain-lain sedangkan teknologi yang termasuk
kedalam jenis non-evaporative drying adalah technology hydrothermal
seperti CHTD. Alat yang digunakan untuk pengeringan batubara juga
bermacam-macam seperti pengering putar (rotary dryer), flash dryer,
fluidized bed dryer, slurry evaporator, autoclave dan hydraulic press dan
lain-lain. Dalam rangka mendukung program peningkatan nilai
tambah batubara, Pusltbang tekMIRA mengembangkan taknologi
upgrading yang diberi nama Coal Drying and Briquetting (CDB). Proses
CDB menggunakan reaktor pengeringan putar (rotary dryer) dengan
energi pemanasan berasal dari gas hasil pembakaran batubara atau
uap air. Pengeringan putar dapat digunakan untuk mengeringkan
batubara yang berukuran agak kasar sehingga hanya sebagian
batubara saja yang terbawa ke siklon dan bag filter sehingga kesulitan-
kesulitan pemisahan partikel halus tidak terjadi pada teknologi CDB.
Teknologi CDB ditargetkan menghasilkan batubara untuk konsumsi
dalam negeri dengan kadar air 10-15% dan nilai kalor antara 4000-
5500 kkal/kg (GAR) dari batubara dengan kadar ari kurang dari 4000
kkal/kg (GAR). Proses CDB diharapkan mempunyai biaya investasi
lebih kecil karena tidak menggunakan residu dan media minyak tanah,
walaupun demikian proses CDB diharapkan menghasilkan briket
batubara yang lebih kuat karena kadar airnya masih tinggi dan tahap
terhadap spontaneous combustion. Pada tahun anggaran 2013 telah
dilakukan uji coba pengeringan batubara kadar air tinggi pada
peralatan pilot plant CDB dan dilakukan modiifkasi peralatan untuk
meningkatkan kinerja peralatan. Dari hasil percobaan diketahui
kapasitas rotary dyer dapat mencapai 650 kg/jam sedangkan kadar air
batubara dapat diturunkan dari 50% menjadi 10%-35% tergantung
pada kondisi proses pengeringan. Suhu gas untuk pengeringan dan
lama proses pengeringan dijaga sehingga proses suhu batubara yang
dikeringkan berada di bawah 150°C sehingga permasalahan mengenai
limbah cair yang mengandung phenol atau gas buang yang
mengandung CO tidak dihadapi oleh teknologi ini.
Tidak tersedia versi lain