Text
Pengembangan Teknologi Proses Upgrading Batubara Peringkat Rendah (Coal Drying and Briqeutting)
Penelitian penurunan kandungan air batubara melalui proses
pengeringan dan pembriketan yang disebut Coal Drying Briquetting
(CDB) telah sukses menurunkan kandungan air batubara Sumatera
Selatan dan Kalimantan Timur, dengan turunnya kandungan air maka
secara otomatis akan menaikkan nilai kalor dari batubara tersebut.
Proses CDB dapat menurunkan kandungan air total batubara
Sumatera Selatan (Pendopo) dan Kalimantan Timur (Muara Wahau)
dari 60,20% dan 46% menjadi 10,3% dan 7,10% yang secara otomatis
dapat menaikkan nilai kalor batubara tersebut dari 2113 kal/g (ar)
dan 3238 kal/g (ar) menjadi 5300 kal/g (ar)dan 5648 kal/g (ar). Dari
hasil pengamatan briket hasil percobaan CDB skala Laboratorium,
kecenderungan peningkatan kadar air pada briket hanya terjadi
sampai minggu 1 dan sudah terjadi kestimbangan pada minggu ke 2.
Kemampuan air kepada briket sekitar 5% hingga 9%. Briket produk
Coal Drying Briquetting (CDB) dilihat dari kuat tekannya cukup bagus
dengan kuat tekan yang tertinggi 44,45 kg dan terendah 21,77 kg.
Dengan suskesnya penelitian penurunan kadar air batubara melalui
proses coal drying briquetting (CDB) diharapkan akan menghasilkan
proses penurunan kandungan air dan peningkatan nilai kalor yang
murah karena pada proses ini hanya menggunakan peralatan
preparasi batubara (penggerusan), unit pengeringan (dryer) dan
pembriketan. Ke depannya proses CDB bisa diaplikasikan untuk
pemanfaatan batubara Low Rank Coal (LRC) Indonesia. Melakukan
penelitian proses Coal Drying Briquetting (CDB) skala laboratorium
bertujuan untuk mendapatkan kondisi operasi yang optimal yang akan
digunakan sebagai parameter proses CDB skala pilot, sedangkan untuk
proses CDB skala pilot adalah untuk mendapatkan kondisi operasi
yang stabil dan produk CDB yang mempunyai kandungan air total
rendah dan nilai kalor yang cukup tinggi dengan kuat tekan yang
cukup bagus. Teknologi CDB yang dapat menurunkan kandungan air
batubara dari 45-65% menjadi sekitar 10-15% sehingga secara
otomatis meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah
Indonesia dari 2000-3500 kal/g (ar) menjadi 5300-5700 kal/g(ar).
Tidak tersedia versi lain