Text
Aplikasi Proses Upgrading Bauksit dan Tailing Pencucian Bauksit Tayan dan P. Kijang
Kegiatan penelitian peningkatan kadar alumina dalam bijih bauksit
(crude bauxite) ini dilakukan bekerjasama dengan PT. Aneka Tambang
tbk. Kegiatan penelitian ini dimulai tahun 2007 dengan melakukan
karakterisasi bijih bauksit Kijang (Riau) dan tailing pencuciannya,
dilanjutkan dengan uji coba srubbing pada skala laboratorium
terhadap crude bauksit dan peningkatan kadar alumina dalam tailing
pencuciannya. Pada tahun 2008 ini, uji coba scrubbing dilakukan
terhadap bijih bauksit berkadar alumina relatif lebih rendah asal
mempawah (Kalimantan Barat) dengan merujuk kondisi proses
optimum yang diperoleh pada tahun sebelumnya dengan melakukan
variasi waktu yang lebih sempit yaitu 5; 7,5; dan 15 menit. Produk
bauksit tercuci asal mempawah ini selanjutnya digunakan untuk
percobaan pelarutan (digesting) menggunakan autoclave pada skala
laboratorium dengan memvariasikan konsentrasi NaOH (130, 140,
dan 150 g/L), ekses NaOH (5, 10, dan 15%), dan parameter lain yang
dijaga tetap adalah berat bauksit 350 g, ukuran butir -35 mesh, suhu
175°C, dan waktu reaksi 60 menit. Larutan sodium aluminat yang
diperoleh dari percobaan digesting dengan menggunakan kondisi
optimum digunakan untuk percobaan hidrolisis untuk mendapatkan
alumina hidrat yang akan digunakan dalam percobaan pembuatan PAC
cair. Percobaan hidrolisis ini dilakukan dengan menggunakan kondisi
optimum yang diperoleh sebelumnya yaitu volume larutan liter
(konsentrasi Al 26,7 g/L), pH 9, suhu 70°C, dan waktu 30 jam. Alumina
hidrat [Al(OH)3] yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk
pembuatan PAC cair dengan memvariasi komposisi Al(OH)3, HCl,
H2SO4, dan pH. Dari serangkaian percobaan upgrading, digesting,
hidrolisis, dan pembuatan PAC yang dilakukan pada skala
laboratorium ini diperoleh hasil-hasil sebagai berikut:
Percobaan upgrading : bauksit asal Mempawah yang sebelumnya
memiliki rentang komposisi kimia 29,8-35,9% Al12O3, 7,29-9,88%
Fe2O3, 33,5-44,8% SiO2 total, 5,9-10,3% SiO2 reaktif dan 0,56-0,94%
TiO2 setelah melalui proses scrubbing selama 7,5 menit
menghasilkan bauksit tercuci (ukuran +12 mesh) dengan
komposisi 43,10% Al12O3, 7,23% Fe2O3, 25,94% SiO2 total, 3,4%
SiO2 reaktif, dan 0,57% TiO2.
Percobaan digesting : kondisi optimum yang didapat pada proses
digesting dengan menggunakan bauksit berukuran butir -35 mesh
(kadar Al12O3 40.91% dan SiO2 reaktif 3.76%), suhu 175°, dan
waktu 60 menit adalah pada konsentrasi NaOH 130 g/L, excess
NaOH 15% yang mencapai persen ekstraksi tertinggi 69,75%.
Percobaaan hidrolisis : produk alumina hidrat yang dihasilkan
sebanyak 42,69 g dengan kadar Al sebesar 96%.
Percobaan pembuatan PAC cair : produk PAC cair yang dihasilkan
belum menunjukkan kualitas yang dikehendaki, karena komposisi
kimianya jauh dari spesifikasi yang diminta pasar.
Sedangkan untuk perancangan dan pengadaan peralatan serta hasil uji
ciba peralatan yang sudah diadakan diperoleh hasil sebagai berikut:
Perancangan peralatan pilot plant ini terbagi dalam 3 macam yaitu
peralatan upgrading bauksit, pembuatan alumina hidrat (digesting
bauksit tercuci dan hidrolisis larutan hasil digesting), dan
pembuatan koagulan (PAC dan tawas) yang seluruh gambardetil
alatnya sudah dibuat. Peralatan yang sudah diadakan akan
dipasang secara terintegrasi sesuai tata letak peralatan yang sudah
disiapkan. Kapasitas peralatan yang direncanakan masing-masing
sekitar 300 kg/jam umpan.
Peralatan yang sudah diadakan tahun 2009 baru tiga macam , yaitu
jaw crusher vibrating screen dan rotary drum scrubber.
Hasil uji kinerja terhadap ke tiga macam alat tersebut menunjukkan
bahwa jaw crusher dan vibrating screen relatif dapat berfungsi dengan
baik, sedangkan alat rotary drum scrubber masih belum dapat
berfungsi dengan baik. Untuk itu akan dilakukan modifikasi pada
bagian pengeluaran produk + 2 mm dan penambahan alat penyemprot
material halus yang menempel pada permukaan saringan dan akan
dipasang pada bagian luar drumnya.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain