Text
Recovery Bijih Emas Halus dengan Metode Aglomerasi Batubara Skala Semi Kontinu (Lanjutan)
Logam emas hingga saat ini masih digunakan sebagai barometer
perdagangan dunia, dan harga emas terus bergerak naik sebesar 55%
dalam tahun ini menjadi 1216,75 USD/ounce pada tanggal 1 Desember
2009 [harian kompas, 3 Des. 2009]. Kondisi ini menyebabkan banyak
pengusaha termasuk PT. Antam mencari endapan emas baru.
Sebelumnya hanya kadar emas > 10 g/ton yang ekonomis ditambang
atau diolah. Saat ini tentunya endapan emas berkadar lebih rendah
pun masih ekonomis untuk ditambang atau diolah, bahkan ada
pemikiran mengolah tailing. Sayangnya Indonesia bukan penambang
atau penghasil emas besar di dunia. Pertambangan emas di Indonesia
digerogoti oleh PETI (pertambangan emas tanpa izin) disekitar
pertambangan berizin yang umumnya beroperasi tanpa memedulikan
lingkungan. Saat ini teknologi pengolahan emas di Indonesia
umumnya menggunakan kimia merkuri untuk proses amalgamasi dan
asam sianida untuk proses sianidasi. Kedua proses ini menggunakan
bahan kimia sangat beracun karena itu pengolahan bijih emas skala
kecil dan berizin di Indonesia perlu dicarikan teknologi alternatif yang
ramah lingkungan, seperti UNIDO mempunyai program mengurangi
pencemaran lingkungan khususnya oleh penambang – penambang
emas menengah kebawah di negara-negara Afrika, Amerika Latin dan
Asia termasuk Indonesia. Sebagai antisipasi program UNIDO maka
salah satu inovasi teknologi yang ramah lingkungan adalah teknologi
CGA (cold gold Aglomeration). Proses penangkapan zarah-zarah emas
secara fisika menggunakan aglomerat batubara sistem semi kontinu
menghasilkan aglomerat batubara mengandung emas atau perak (coal
gold agglomerate-CGA). Teknologi ini merupakan teknologi inovasi
pengolahan emas ramah lingkungan dengan menggunakan bahan
aspal pasir emas alluvial Pangkalanbun. Ujicoba sistem semi kontinu
dilakukan dengan cara mengatur aliran simultan antara pasir emas
dengan aglomerat batubara di dalam media air menuju reaktor.
Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama waktu kontak atau
semakin lambat kecepatan alir pasir emas dan aglomerat batubara ke
dalam reaktor, proses penangkapan zarah-zarah emas atau perak
semakin efektif sehingga kadar emas siap dilebur yang dihasilkan
sekitar 169 g/ton dari semula berkadar 25 g/ton dengan perolehan
tidak kurang dari 80%. Laporan ini merupakan hasil penelitian inovasi
teknologi pengolahan emas yang ramah lingkungan yang ditujukan
untuk zarah-zarah emas secara fisika menggunakan aglomerat
batubara pada skala semi kontinu, dan secara teknis ilmiah teknologi
ini mampu menangkap partikel emas dari bijihnya hingga berkadar 6
kali lipat dari kadar bijih awal dengan recovery tidak kurang dari 80%.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kadar emas dari bijihnya
kemudian akan diajukan sebagai paten sebelum kelak dapat diolah
secara komersial. Urgensi dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan teknologi penangkapan zarah-zarah emas halus dari bijih
aluvial dengan proses CGA yang ramah lingkungan pada sistem semi
kontinu. Teknologi ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan
reagen kimia beracun dan juga sebagai inovasi teknologi masa depan
serta kemungkinan akan menjadi primadona dalam pengolahan emas
berukuran halus yang sulit diolah saat ini secara fisika, dan di masa
depan kemungkinan akan dapat menggantikan proses amalgamasi
yang selalu menggunakan racun air raksa dan proses sianidasi dengan
racun sianida. Keberhasilan penelitian ini seharusnya dapat
diaplikasikan di tambang-tambang skala kecil hingga skala menengah
setelah ada kajian ekonomis proses; dan berdampak positif sebagai
alternatif memanfaatkan teknologi pengolahan emas yang ramah
lingkungan, meningkatkan nilai tambah bijih yang lebih efektif,
mengurangi pencemaran lingkungan, dan menerapkan sustainable ore.
Tidak tersedia versi lain