Text
Ekstraksi Alumina dari Residu Bauksit Skala Bench serta Pemurniannya untuk Refraktori
Indonesia memiliki endapan bauksit yang cukup potensial dan saat ini
sedang didirikan pabrik alumina di daerah Kalimantan Barat.
Berkaitan dengan pengolahan bijih bauksit menjadi alumina diantara
hal terpenting untuk mendapatkan perhatian adalah limbah yang akan
dikeluarkannya, berupa lumpur halus berwarna merah-kecoklatan
yang disebut redmud (habashi, 1997) atau residu bauksit. Jumlah
residu bauksit yang dikeluarkan suatu pabrik alumina bisa mencapai
45-55 % dari berat bijih bauksit yang diproses. Jika limbah ini tidak
dikelola secara terencana dapat menimbulkan dampak terhadap
124
lingkungan (Pontikes, 2006). Dalam rangka mendukung terwujudnya
industri pemrosesan bauksit menjadi alumina yang telah
direncanakan PT. Antam, perlu sejak dini mengantisipasi limbah
‘residu bauksit’ (red mud) yang akan dikeluarkan oleh industri
tersebut. Sehingga langkah antisipasi yang dilakukan adalah penelitian
pengolahan dan pemanfaatannya untuk mendapatkan teknologi
proses pendayagunaan residu bauksit agar dapat bermanfaat serta
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan
semakin tingginya kesadaran manusia akan dampak terhadap
lingkungan hidup dari aktifitas suatu industri, saat ini pengelolaan
residu bauksit di berbagai belahan dunia dilandaskan pada strategi
zero waste yakni strategi bebas limbah-berupaya memproses seluruh
mineral utama residu bauksit menjadi produk berharga seperti
alumina dan soda, konsentrat besi untuk menghasilkan besi mentah,
rutil sintetis (titonia) dan semen dengan mengolahnya secara piro dan
hidrometalurgi (sharif, 2005). Penelitiannya sampai saat ini masih
terus berlangsung. Strategi ini juga digunakan sebagai landasan untuk
penelitian pengolahan dan pemanfaatan residu bauksit Kalimantan
Barat. Penelitian yang dilakukan adalah pembuatan refraktori atau
bata tahan api dari hasil ekstraksi alumina residu bauksit berbasis
bijih bauksit asal Kalimantan Barat. Tujuan penelitian adalah
mendapatkan metode pengolahan dan pemanfaatan kandungan
alumina residu bauksit yang semula tidak benilai dan berpotensi
mencemari lingkungan menjadi bahan refraktori yang memiliki nilai
tambah dan diperlukan oleh industri untuk refraktori sebagaimana
diketahui refraktori alumina banyak digunakan dalam industri
terutama dalam proses peleburan logam pada suhu tunggi (smelting).
Selama ini kebutuhan refraktori alumina di Indonesia masih dipenuhi
melalui impor. hasil penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan
secara terintegrasi dengan industri alumina yang akan diwujudkan
sebagai bagian dari pemanfaatan limbah.
Tidak tersedia versi lain