Text
Optimasi Pilot Plant Pembakar Siklon Batubara
Saat ini energi alternatif yang dapat disediakan dalam jangka pendek
secara ekonomis dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan
energi di dalam negeri adalah batubara, oleh karena itu usaha
subsitusi BBM di Industri dengan energi batubara perlu terus
ditingkatkan karena saat ini peran batubara dalam bauran energi baru
mencapai sekitar 18%. Sesuai dengan kebijakan pemerintah peran
batubara dalam bauran energi nasional pada tahun 2025 adalah 33%.
Perkembangan penggunaan batubara di industri telah dipelopori oleh
perusahaan-perusahaan dalam dan luar negeri, baik melalui
penggunaan mesin-mesin baru berbahan bakar batubara maupun
melalui modifikasi utilitas ex BBM, dan modifikasi telah banyak
dilakukan antara lain dengan pembakar batubara bubuk dan
pembakar siklon. Pengembangan pembakar siklon dengan bahan
bakar batubara halus (-30 mesh) telah semakin diperluas meliputi
penggunaan-penggunaan untuk skala 4 kg/jam sampai 2.500 kg/jam,
bahkan akan ditingkatkan lagi sampai 3000-4000 kg/jam untuk
penggunaan skala besar seperti ketel uap di pabrik besar, dan untuk
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta proses-proses
pembakaran skala besar lainnya. Pada substitusi bahan bakar minyak
(BBM) dengan batubara di industri menggunakan pembakar siklon
khususnya industri-industri besar sering ditemui masalah
pengangkutan atau transport tepung batubara disebabkan karena
akses yang sulit seperti jarak yang jauh (jarak horizontal maupun
vertikal), lorong-lorong yang sempit karena peralatan yang banyak,
atau masalah kebersihan lokasi-lokasi yang dilewati. Untuk situasi
demikian diperlukan teknik transport tepung batubara yang efektif,
efisisen, bersih dan handal. Tujuan penelitian ini adalah untuk
membuat sistem pembakaran batubara dengan pembakar siklon
dengan rangkaian peralatan yang handal sehingga dapat dilakukan
peningkatan skala dengan kinerja yang efektif dan efisien serta untuk
keperluan tersebut dikembangkan sistem penyaluran tepung batubara
secara nyumatik menggunakan peniup udara melalui pipa lentur, dan
adapun sasaran dari kegiatan ini adalah mendapatkan sistem
transport tepung batubara secara nyumatik dengan kadar batubara
dalam suspensi minimal adalah konsentrasi stoikiometri
pembakarannya yaitu 0,22 kg per m3 udara pembakar. Teknik yang
akan dikembangkan dalam kegiatan ini adalah teknologi transport
tepung batubara dengan teknik konveyor nyumatik yang dapat
dilaksanakan melalui pipa lentur. Dengan teknik ini tepung batubara
dihisap dan ditiup oleh alat peniup udara melalui pipa-pipa lentur dari
mesin pengumpan batubara menuju lokasi pembakaran di utilitas
industri, dan dengan teknik nyumatik ini maka ruang pengumpan
tepung batubara tidak harus dekat dengan utilitas industri yang
dilayani, khususnya di pabrik-pabrik besar seperti pabrik gula,
peleburan timah, PLTU yang memposisikan ketel uapnya terpisah dari
lokasi bahan baku. Untuk keperluan penyimpanan atau pemindahan
digunakan transport secara nyumatik dengan peniup udara dan siklon
pengumpul debu. Dengan sistem ini didapat efisiensi transport yang
rendah, ± 10%, akibat hambatan yang besar dari siklon terutama
dengan adanya kantungPenyaring atas dan bawah, sedangkan untuk
keperluan transport tepung batubara guna dibakar langsung, sistem
dimodifikasi tanpa penggunaan siklon pengumpul debu melainkan
langsung menuju pembakar siklon. Dalam hal ini dimungkinkan juga
sistem transport dengan peniup udara secara estafet menggunakan
beberapa peniup udara. Parameter yang diperiksa meliputi dimensi
pipa lentur, spesifikasi peniup udara, kadar batubara dalam suspensi,
jarak horizontal atau vertikal, dan efisiensi transpor.
Tidak tersedia versi lain